Berawal dari ikatan kontrak
Pagi ini viola menggeruntu tak jelas karena ia tadi bertemu kakak kelas yang menurutnya menyebalkan dan sangat sok. Walaupun hanya sekedar bertemu viola menganggap harinya ini sangat sial. Ketidak sukaan viola terhadap kakak kelas nya itu semenjak MOS tahun lalu ketika viola menjadi siswa baru di sekolah ini.
“ vi kamu kenapa siihh pagi-pagi kok udah ngomel gak jelas?” tanya felly teman viola penasaran.
“tau ahh.. Sial banget aku hari ini” jawab viola dengan muka masam
“jangan bilang tadi kamu ketemu sama kak dimas..” tebak felly.dan tentu saja tebakan felly itu sangat tepat. Viola hanya mengangguk.
“dan kamu langsung berasumsi bahwa hari ini hari sial kamu” lanjut felly
“kayaknya kamu bakat dehh fel jadi peramal” ujar viola
“walaupun aku gak punya bakat jadi peramaal,, aku juga tau kali vi.. Ini kan kebiasaan kamu tiap ketemu kak dimas..” jelas felly.
“udahlah fel jangan sebut nama orang menyebalkan itu” ucap viola menguncrutkan bibirnya.
Keesokan harinya felly sangat bingung kenapa sampai jam 08.00 WIB viola belum datang juga. Di telfon namun tak di angkat di SMS juga tak di balas. Padahal tadi viola sudah mengatakan pada felly bahwa dia sedang di jalan. Memang siihh viola tadi kesiangan tapi ini sudah satu jam lebih.felly sangat khawatir takut terjadi sesuatu terhadap sahabatnya itu. 5 menit kemudian tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu seluruh perhatian tertuju pada orang itu. Terlihar disana viola turun dari gendongan dimas.
“maaf pak dia telat. Ini semua karena saya tadi di jalan saya tidak sengaja nyerempet dia terus dia pinsan jadi saya bawa ke UKS dulu pak.” jelas dimas terhadap guru pengajar hari itu . Guru itu termasuk guru kiler, ia memperhatikan viola dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk mencari kebenaran atas apa yang di katakan dimas. Terlihat rok dan baju viola kotor karena lumpur dan di pipinya terdapat plaster besar.
“ya sudah duduk.. Dan kamu silahkan kembali ke kelas mu” ujar guru itu kepada dimas dan viola.
“baik pak terimakasih” balas viola. Sesampainya viola di bangkunya felly menatap dirinya dengan pandangan sangat penasaran.
“nanti aku ceritain.” ucap viola pelan.
Setelah istirahat tiba viola langsung menceritakan kejadian itu pada felly terus menerus mendesaknya.
_flashback_
Hari ini aku kesiangan akibat menonton bola bersama kakak ku saampai jam 2 pagi. Sesampainya di sekolah gerbang sudah di tutup. Ku lihat jam yang melingkar di tangan ku ternyata aku telat 15 menit. Ini pertama kalinya aku telat sekolah dan itu semua karena menonton bola . Ya Allah... Dosa apa aku?. Aku terus memohon pada bapak satpam itu.
“pak ayolah pak izinin saya masuk”
“tidak bisa!! Apa kamu tidak tahu haahh ini jam berapa?” ujar satpam itu memarahi viola.
“saya tahu pak saya telat 15 menit tapi.. Ayolah pak izinin saya masuk kali ini aja pak saya janji saya tidak akan telat lagi.” balas viola dengan muka semelas-melasnya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dan ternyata dia adalah si cowok tengil (dimas).
“ada apa pak kok ribut?” tanya dimas.
“ini loh mas telat 15 menit tapi dia maksa mau masuk” jawab satpam itu.
“ya udah pak biarin dia msuk” ucap dimas yang menurut viola sok cool itu.
“baik mas..” patuh satpam itu lalu membukakan gerbang untuk ku.
Apa kalian tau kenapa satpam itu langsung mematuhi perintah dimas? Itu semua karena dimas adalah pura ddari pemilik sekolah.
“terimakasih pak..” ucap ku berterima kasih pada satpam itu. Dan aku langsung melangkah kan kaki menuju kelas tanpa berterima kasih paada dimas. Namun dimas menahan tangan ku dan menyeret ku menuju taman belakang. Aku hanya pasrah saja tidak ada gunanya juga aku melawan orang seperti dia.
“dasar bodoh!!” apa? Dia bilang aku bodah? Apa dia tidak salah?
“lo yakin mau masuk kelas” tanya dimas dengan pandangan meremehkan.
“ya iyalaahh..” jawab ku.
“siapa yang ngajar di kelas lo hari ini?” tanya dimas lagi
“pak ganip” jawab ku
“ apa lo pikir pak ganip akan percaya gitu aja?”
‘ada benarnya juga siihh apa yang di katakan cowok tengil ini. Kenapa aku tak kepikiran sebelumnya. Terus apa yang harus aku perbuat’ pikir ku.
“gue akan bantuin lo” ucapnya tib-tiba.
“caranya...?”
“itu siih gampang... Tapi sebagai imbalannya lo harus mau jadi pacar kontrak gue” ujarnya
“APAAA??”
“biasa aja kali... Jadi lo mau apa gak? Cuma 20 hari kok. Sampai nyokap gue balik lagi ke Ausie karena kalau minggu depan gue gak bawa pacar ke rumah gue bakal di jodohin” jelasnya panjang lebar.
“terus kenapa harus gue?” tanyaku penasaran
“ karena cuma lo perempuan yang mendekati cocok sama kriteria gue” jawabnya. Apa dia bilang? Mendekati cocok? Iuuuuhhh.....
“ jadi lo mau apa gak?” lanjutnya
“gak!!” jawab ku telak. Dia mengerutkan dahinya.
“oke kalau gitu gue jua gak akan bantuin lo masuk kelas” ucapnya mulai melangkah pergi. Terus bagaimana dengan nasibku? Bisa dimakan pak ganip nanti. Terpaksa .....
“oke gue mau” ucap ku. Dia membalik kan badannya menghampiri ku dengan senyum yang menurutku adalah senyum devil. Kulihat dia sedang mengambil lumpur. Aku bingung untuk apa lumpur itu? Tiba-tiba ia menempelkan lumpur itu ke baju dan rok ku. Mau dia apakan seragamku? Lalu dia mengambil sebuah plaster besar dari sakunya dan menempelkannya ke pipiku. Oh my god seperti apa rupa ku sekarang?
“ayo naik” ujarnya menyuruh ku untuk naik ke punggungnya. Apa aku tidak salah? Sebenarnya rencana apa yang telah dia buat? Sesampainya di kelas dia merunkan ku dari punggungnya.
“maaf pak dia telat. Ini semua karena saya tadi di jalan saya tidak sengaja nyerempet dia terus dia pinsan jadi saya bawa ke UKS dulu pak.” jelasnya pada pak ganip.
_flashback off_
“so sweet....” ujar felly
“so sweet gigi lo monyong”.balas viola
“ya iyalah secara ada cowok yang maw nolongin kamu kayak gitu”
“tapa tetap aja fel dia meminta bayaran yang sangat berat dan menyebalkan”
Mulai dari saat itu dimana ada viola di situ ada dimas dan dimana ada dimas di situ ada viola. viola mulai merasa nyaman berada di samping dimas, dan dimas pun merasa candu terhadap suara yang selalu menenangkan hati dan pikiran nya walau pun apa yang di katakan viola itu tidak berperi kemanusiaan. sampai teman-teman mereka mengira bahwa mereka berdua memang benar-benar pacaran. Hingga hari itu tiba, orang tua dimas telah kembali dari Ausie. Dimas menyuruh viola datang ke rumah nya jam 7 malam. Viola pun sampai di rumah mewah dimas,ia bertemu dengan orang tua dimas.
“nama mu siapa ?” tanya ibu dimas
“viola tante” jawab nya
“ orang tua kamu kerja apa?”
“ayah saya sudah meninggal tante semenjak saya kecil, kalau mama saya kerja sebagai guru SD”
“apa? Mama kamu cuma kerja itu?” tanya mama dimas lagi dengan mata melotot.
“gak kok tan biasanya saya sama mama membuat kue tradisional lalu kita titipin ke warung-warung” jelas viola
“Dimaas... Perempuan seperti dia yang akan kamu jadikan pendamping? Apa kamu katarak hahh?? Ibunya hanya guru SD dan penjual kue dimas.. Tidak sebanding dengan kita, dan kamu tolong tinggalkan anak saya” ujar ibu dimas kasar. Kesabaran viola sudah sampai ubun-ubun.
“tanpa tante suruhpun saya juga akan pergi dari sini. Dan tante ingat baik-baik jangan pernah meremehkan mama saya! Terimakasih atas undangan dan cacian anda. Assalamualaikum” ujar viola panjang lebar lalu melangkah kan kaki nya keluar dari rumah itu.
“VIO... VI... TUNGGU VI...” teriak dimas dan ingin mengejar viola namun ibunya menahan dirinya.
Keesokan harinya dimas mencari viola di seluruh penjuru sekolah dan hanya ada satu tempat yang belum ia datangi yaitu taman belakang, akhirnya dimas menemukan viola di tempat itu.
“vio.. Vi maafin aku vi.. Maafin mama ku” ujar dimas sambil bersujud di hadapan viola tiba-tiba. Viola tidak menjawab ucapan dimas.
“please vi maafin aku... Aku sadar vi aku udah jatuh cinta sama kamu dan aku gak bisa kalau orang yang aku cinta benci padaku” jelas dimas mengungkapkan perasaannya.
“aku udah maafin kamu dimas” ucap vio sambil membantu dimas berdiri. Dimas mengembangkan senyumnya, ia merasa sanngat bahagia.
“tapi maaf aku gak bisa balas perasaan mu.. Permisi” lanjut viola memecahkan semua hayalan dimas. Viola pergi dan kini dimas hanya seorang diri di taman yang penuh kenangan ini, merenungi nasibnya tyang terbujur kaku, entah sampai kapan detik pun tak mampu artikan semua itu dan dia bersanding dengan waktu harapkan sebuah keajaiban yang akan menjadi masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar