Sabtu, 27 September 2014

LUCU DONK..!!!

TAXI
Seorang berada dalam sebuah taxi ..
lalu ibu tersebut kebelet pipis lalu ia
bertanya kepada supirnya :
Ny : "Pak supir saya kebelet pipis
nih ... bisa minggir dulu nggak
Pak ! ..."
Supir : "Wah nggak bisa bu disini
banyak polisi .... kalau ibu bener
kebelet, pipis dari dalam aja bu...tapi
dibuangnya keluar ya bu ..... Lalu si
ibu menuruti kata si supir, di bukalah
jendela dan pipislah ibu itu dari dalam
taxi ...., tetapi ketika ingin selesai
ada pengendara motor PM) yang ngebut
dari sisi jendela tsb ...... lalu
pengendara motor tsb memberhentikan
taxi tersebut, dan ibu itu langsung
merapihkan diri .....
PM : " saya mau tanya siapa yang
ngeludahin saya tadi ....."
Ny : " maaf pak ... tadi saya tidak
sengaja .......soalnya....!! "
PM : " sudah , .. Ibu nggak perlu minta
maaf ... saya sempat melihat
tadi ..walaupun sebentar saya tau
pelakunya itu bewokan ..... "
Ny : " !@#$!%^% ..

KADO TERAKHIR UNTUK SAHABAT

KADO TERAKHIR UNTUK SAHABAT

       Lima hari sebelum kawanku pindah jauh disana. Selepas makan siang, aku langsung kembali beranjak ketempat aku bermain dengan sahabatku.
“hei, kemana saja kamu? Daritadi aku nungguin” Tanya sahabatku yang bernama Alvi. “tadi aku makan siang dulu” jawabku sambil menahan perut yang penuh dengan makan siang “ah ya sudah, ayo kita lanjutkan saja mainnya” sahut Alvi. Tidak lama saat aku & Alvi sedang asyik bermain congklak, Rafid adiknya Alvi datang menghampiri kami berdua.
“kak, aku pengen bilang” kata Rafid “bilang apa?” sahut Alvi penasaran “kata bapak, sebentar lagi kita pindahan” jawab Rafid “hah? Pindah kemana?” tanyaku memotong pembicaraan mereka “ke Bengkulu” jawab Rafid dengan singkatnya “ya udah kak, ayo disuruh pulang sama ibu buat makan siang dulu” ajak Rafid ke Alvi “iya deh.. ehm.. Alma, aku pulang dulu ya aku mau makan siang” ujar Alvi “eh, iya deh aku juga mau pulang kalau gitu” sahutku tak mau kalah.

Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar & entah kenapa perkataan Rafid yang belum pasti tersebut, terlintas kembali ke pikiranku. “Andai perkataan tersebut benar, tak terbayang bagaimana perasaanku nanti” ujarku pada cermin yang menatapku datar “sudahlah daripada aku memikirkan yang belum pasti lebih baik aku mendengarkan musik saja” ujarku kembali sambil beranjak mengambil mp3. Tak lama kemudian aku mendengar sebuah pembicaraan, yang aku tau suaranya sudah tak asing lagi bagiku yaitu orang tuaku & orang tua Alvi sahabatku. Aku mencoba mendekati pintu kamar untuk mendengarkan pembicaraan itu. Tak lama tanganku keringat dingin, aku sudah mendapatkan inti pembicaraan ternyata benar apa yang dikatakan Rafid pada Alvi tadi siang bahwa mereka akan pindah kurang lebih sebulan lagi.

Lemas sudah tubuhku setelah mendengar kabar itu, tiba-tiba ibu mengetuk kamarku & mengagetkanku yang sedang bingung itu. *Tok3X… “Alma, kamu mengunci pintu kamarmu ya” Tanya ibu sambil mencoba membuka pintu “enggak kok” jawabku dengan lemasnya “kamu kenapa.. ayoo buka kamarmu!!” teriak ibu “iya.. sebentar” sahutku sambil membuka pintu.
“ngapain kamu mengunci kamar?” Tanya ibu.
“gak knapa2… tadi aku memang lg duduk didepan pintu” jawabku sambil menoleh keruang tamu yang berhadapan dengan kamar tidurku.
“ya sudah, tadi orang tuanya Alvi bilang kalau mereka ingin pindah bulan depan”
“iya, aku sudah tau” sahutku kembali ke kamar tidur.
“oh kamu tidak sedih kan?” Tanya ibu yang menghampiriku.
“…” tak kujawab pertanyaan ibu.
“hm.. sudahlah tak usah dibahas dulu.. sana tidur siang dulu biar nanti malam bisa mengerjakan PR” ujar ibu sembari mengelus elus rambutku.
“iya…” jawabku singkat.

Esoknya tepat dihari Minggu, matahari pagi menyambutku. Suara ayam berkokok dan jam beker menjadi satu. Tetapi, aku tetap saja masih ingin ditempat tidur. Sampai sampai ibuku memaksaku untyk tidak bermalas malasan.
“Alma, ayoo bangun.. perempuan gak baik bangun kesiangan” ujar ibu sambil melipat selimutku. “sebentar dulu lah.. aku masih ngantuk” sahutku sambil menarik selimut ditangan ibu. “itu Alvi ngajak kamu main.. ayoo bangun!!” ujar ibu kembali sambil mengeleng gelengkan kepala. “oh oke oke” sahutku semangat karena ingat bahwa Alvi akan pindah sebulan lagi. Lalu, aku langsung beranjak dan segera lari keluar kamar tidur untuk mandi & sarapan. Setelah itu Alvi tiba-tiba menghampiri rumahku
“Assalamualaikum, Alma!!” panggil Alvi dari depan rumah.
“walaikumsallam, iya!!” sahut ibuku yang beranjak keluar rumah.
“oh ibunya Alma, ada Alma nya gak?” Tanya Alvi.
“Alma nya lagi sarapan, sebentar ya tunggu dulu aja. Sini masuk” jawab ibuku.
“iya, terimakasih” sahut Alvi.

Ketika aku sedang asyik asyiknya sarapan, Alvi mengagetkanku.
“Alma, makan terus kau ini” ujar Alvi sambil tertawa. “yee, ngagetin saja kamu ini. Aku laper tau” sahutku sambil melanjutkan sarapan. “kok gak bagi-bagi aku sih” Tanya Alvi sambil menyengir kuda. “kamu mau, nih aku ambilin ya” jawabku sambil mengambil piring. “hahaha.. tidak, aku sudah makan, kau saja sana gendut” sahut Alvi sambil tertawa terbahak bahak. “ ya sudah” jawabku kembali sambil membuang muka. Tak berapa lama kemudian, sarapanku habis lalu Alvi mengajakku bermain games.
“sudah kan, ayoo main sekarang” ajak Alvi semangat.
“aduh, sebentar dong. Perutku penuh sekali ini” sahutku lemas karena kebanyakan makan.
“ah ayolah, makanya jangan makan banyak-banyak. Kalau gitu kapan mau dietnya” ujar Alvi menyindirku.
“ya sudah ya sudah.. ayoo mau main apa?” ajakku masih malas.
“Vietcong yuk tempur tempuran” jawab Alvi semangat seperti pahlawan jaman dulu.
“hah, okedeh” sahutku sambil menyalakan laptop milik ayah.

Kemudian, aku dan Alvi bermain games kesukaan kami berdua. Kami bermain bergantian, besar besaran skor, dll tidak berapa lama ibunya Alvi memanggilnya untuk pulang. “Assalamualaikum, ada Alvinya gak?” Tanya ibunya Alvi sambil tersenyum denganku. “ada-ada.. Alvi! ibumu mencarimu” kataku kepada Alvi yang sedang asyik bermain. “iya.. sebentar lagi, emangnya kenapa?” Tanya Alvi. “aku tidak tau, sana kamu pulang dulu. Kasian ibumu” ujarku sambil mematikan permainan. “huh… iya iya” sahut Alvi beranjak pulang kerumahnya.

Tak berapa lama, Alvi mengagetkanku saat aku sedang asyik melanjutkan permainan yang sedang aku mainkan. “Alma!!” panggil Alvi sambil menepuk pundakku. “Apa??” jawabku kaget. “aku pengen bilang sesuatu nih, hentikan dulu mainannya” ujar Alvi. “iya!!” jawabku agak kesal. “jadi gini.. dengarkan ya… ternyata aku akan pindah 3 hari lagi” cerita Alvi. “hah? Kok dipercepat??” sahutku memotong pembicaraan Alvi. “aku juga tidak tau, kau sudah memotong pembicaraanku saja. Sudah ya aku harus pulang ini.. bye!” ujar Alvi beranjak keluar rumah. “tunggu!! Kau serius??” tanyaku dengan penuh ketidak percayaan. “serius.. dua rius malahan” jawab Alvi sambil memakai sandal. “oh ok.. bye!!” sahutku kembali. Setelah Alvi pulang kerumahnya, aku langsung lari masuk kedalam kamar & mengunci diri. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sedangkan sahabatku sendiri ingin pindahan. Terlintas dipikiranku untuk memberikan Alvi sahabatku sebuah kado yang mungkin isinya bisa membuat Alvi mengingat persahabatan antara kita selamanya walaupun sampai akhir hayat nanti kita tak akan dipertemukan lagi. Ku ambil buku diary & kutuliskan cerita-cerita persahabatanku dengan Alvi. Tak lama kemudian , terpikirkan suatu hadiah yang akan kukasih dihari dia pindahan nanti lalu, aku ambil uang simpanan yang kusimpan didompetku & ku piker-pikir uangnya cukup untuk membelikan hadiah untuk Alvi.

Besoknya sehabis pulang sekolah, aku langsung berlari ke toko sepatu dekat rumahku. Ku lihat-lihat sepatu yang cukup menarik perhatianku, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang menghampiriku.
“hai nak, kamu mencari sepatu apa?” Tanya seorang bapak yang menurutku adalah pemilik took sepatu tersebut.
“i..iya pak, maaf ada sepatu futsal tidak?” tanyaku sambil celingak celinguk kesegala rak sepatu.
“oh, ada kok banyak.. untuk apa? Kok perempuan nyari sepatu futsal?” Tanya pemilik sepatu itu sambil tertawa melihatku yang masih polos.
“bukan untukku pak, tapi untuk sahabatku” jawabku dengan polosnya.
“teman yang baik ya, memangnya temanmu mau ulang tahun?” Tanya pemilik toko itu. Entah kapan pemilik toko itu berhenti bertanyaku.
“iya” jawabku berbohong karena tak mau ditanya-tanya lagi.
“ok, sebentar ya. Bapak ambilkan dulu sepatu yang bagus untuk sahabatmu” ujar pemilik toko sepatu itu sambil berjalan ke sebuah rak sepatu.
“sip, pak” sahutku.

Tak lama, si pemilik toko sepatu itu kembali sambil membawa sepasang sepatu futsal.
“ini nak!!” kata pemilik toko sepatu itu.
“wah bagus sekali, berapa pak harganya?” tanyaku sambil melihat lihat sepatu yang dibawa oleh si pemilik toko itu.
“bapak kasih murah nak untukmu.. ini aslinya Rp. 60.000 jadi kamu bayar Rp.20.000 saja nak” jawab si pemilik toko itu sambil tersenyum.
“terima kasih banyak pak, ini uangnya” sahutku.
“iya nak, sama-sama” ujar sipemilik toko tersebut.
Setelah itu, aku kembali kerumah & mulai membungkus kado untuk Alvi. Mungkin ini hadiahya tidak seberapa, kutuliskan juga surat untuk Alvi.
Malamnya aku masih memikirkan betapa sedihnya perasaanku nanti jika sahabatku pindah pasti tidak bisa bermain bersama lagi seketika air mataku menetes & tiba-tiba ibu mengetuk pintuku. “Alma, ayo kerjakan dulu PRmu nanti kemalaman” ujar Ibu dari depan pintu kamar tidurku. “i..iya” sahutku sambil mengelap tetesan air mata yang membasahi buku yang sedang aku baca. Saat itu pikiranku masih campur aduk entah harus senang, sedih atau apa. Aku tidak bias konsen mengerjakan PR malam itu.

Besoknya disekolah, aku sering bengong sendiri sampai-sampai guruku bertanya kenapa aku seperti itu. Ku jawab saja dengan jawaban yang sangat singkat karena aku sedang memkikirkan bahwa besok lah dimana aku akan berpisah dengan sahabatku sendiri. Sepulang sekolah, aku langsung berlari memasuki kamar lagi, mengurung diri hingga malam. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku & kuintip lewat jendela kamar. Tak lama kemudian juga Ibu memanggilku untuk keluar kamar sebentar.
“Alma, ayoo keluar sebentar. Ada Alvi nih” ajak ibu sambil membuka pintu kamarku.
“iya…” jawabku beranjak keluar kamar.
“nah kamu sudah disini, jadi begini besok kan Alvi mau pindah ayoo berpamitan dulu” ujar ibuku.
“Alma!!” peluk ibunya Alvi kepadaku. “maafin tante sama Alvi beserta keluarga ya jika punya salah sama kamu, ini tante ada sesuatu buat kamu” kata ibunya Alvi sambil memberiku sekotak coklat.
“i..i..iya” sahutku tak bisa menahan perasaan & sejenak kuingat bahwa aku juga punya hadiah untuk Alvi.
“Alvi, ini ada hadiah buat kamu. Terima ya” ujarku mulai menangis.
“iya. Alma jangan nangis dong” jawab Alvi.
“aku..” sahutku semakin sedih.
“sudah kamu tidak usah sedih nanti suatu saat kalian bisa ketemu kembali kok, ibu yakin” kata ibu sambil menghapus air mataku.
“ya udah, Alma jangan nangis ya… oh iya ini tante kasih no telp. Tante biar nanti kalau Alma kangen sama Alvi bisa sms atau telepon ya” ujar ibunya Alvi sambil menghapus air matanya pula yang hendak menetes.
“iya..” jawabku sambil masih menangis.
Malam pun tiba, Alvi dan keluarganya pun berpamit & harus segera pulang. Aku pun kembali ke tempat tidur & mulai menangis. Ku gigit bantal yang ada didekatku tak tahan aku melihat hal tadi.

Esoknya, tepat dipagi hari. Suara mobil kijang mengagetkanku & bergegas aku keluar. Ku lihat Alvi & keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat, tubuhku mulai lemas ibu pun mengagetkanku untuk segera bersiap siap sekolah. Sebenarnya aku ingin tidak sekolah dulu hari itu tapi bagaimana juga pendidikan yang utama. Aku bergegas kesekolah tapi sebelum itu, aku berpamitan dengan Alvi lagi.
“Alvi!!” panggilku dari jauh.
“Alma!!” jawabnya sambil mendekatiku.
“jaga dirimu baik baik disana ya kawan, semoga banyak teman-teman barumu disana & jangan lupakan aku” ujarku mulai meneteskan air mata.
“iya, kamu tenang. Kalau kamu sedih kepergianku ini tidak akan nyaman” sahutnya sambil memberiku tissue.
“iya… terima kasih” jawabku kembali sambil menghapus airmata dengan tissue yang diberikan oleh Alvi.
“oh iya Alma, thanks ya buat kadonya itu bagus banget… aku juga udah baca suratnya… terima kasih banyak ya… akan kujaga terus kado mu” ujar Alvi menatapku.
“iya.. sama-sama karena mungkin itu kado terakhirku untukmu kawan” sahutku sambil tersenyum tak menunjukkan kesedihan lagi.
“kau memang sahabat terbaikku selamanya” kata-kata terakhir Alvi yang ia ucapkan kepadaku. Disitulah aku berpisah & disitulah aku harus menempuh hidup baru, juga makna dari sebuah persahabatan tanpa menilai kekurangan seorang sahabat.

Jumat, 26 September 2014

SEMUA TENTANG SELLY.....

    Selly. Ya, cewek itu bisa lu temui di semua sudut sekolah ini. Di madding of the week, of the month and of the year, di acara-acara sekolah, di ruang guru, di dalam perbincangan cowok-cowok sekolah, di antara laki-laki yang sedang berantem memperebutkan perhatiannya, dan satu lagi, lu bisa temuin dia di balik pianonya yang selalu mengalun merdu karena kelihaian jari jemarinya yang lentik.
Selly. Cewek paling popular di sekolah ini. Cantik, kaya, baik, pinter, jago main piano pula. Gak salah kalau banyak banget cowok-cowok popular alias ‘copop’ yang ngedeketin dia. Dan nasib sial bagi cowok-cowok ‘kupop’ atau kurang popular di sekolah ini, karena hanya bisa gigit jari dan ngeliatin si Selly dari jarak minimal 10 meter karena minder. Dan sialnya lagi, gue adalah bagian dari mereka yang menyandang title ‘kupop’.
Slamet. Ya, nama gue Slamet Kliwon Wengi. Emang agak aneh sih, tapi ada alasannya kok. Waktu gue nanya ke kakek gue, alasannya simple banget. Kata beliau, karena gue lahir dengan selamat di malam Jum’at Kliwon. Gue gak habis pikir kalau ‘ngkong’ sampai kepikiran masukin ‘Jum’at’ juga dalam nama gue. Bisa-bisa nama gue adalah peraih nama terunik paling panjang dalam sejarah di sekolah gue ini.
Balik lagi ke SELLY. Arrgh, nama itu selalu membuat warna abu-abu yang gue lihat jadi warna merah, rumput pun bisa berubah jadi bunga mawar jika gue ngelihat dia dari sini.
Gue gak seperti Selly yang bisa lu lihat dimana-mana. Gue ini nih, hanya bisa lu lihat di tiga tempat. Pertama, di pos pantau gue yang lokasinya di pojokan kantin. Tempat gue bisa ngeliat Selly yang lagi digodain sama ‘copop’. Kedua, di kelas dong pastinya. Tepatnya di barisan paling belakang sebelah kanan, alias pojokan lagi. Dan yang ketiga, di depan pintu ruang musik buat dengerin suara piano yang dimainkan Selly.
Selly memang cantik, tapi bukan itu yang gue lihat. Selly kaya, tapi bukan itu juga yang buat gue suka. ‘Emang gue cowok apaan?’. Gue suka sama dia, karena dia kelewat baik di mata gue, dia adalah saingan gue setiap kali juara umum sekolah akan diumumkan. Tapi sayang, gue nggak pernah tahu dimana nyali gue minggat waktu berjarak 5 meter saja dari dia.
Pagi ini cuaca kurang bersahabat. Mendung disana-sini, dan gue sudah terlanjur nggak bawa payung, dan nggak mungkin balik lagi ke rumah demi sebuah payung. Tiba-tiba, saat yang gue was was-in datang juga. Hujan yang lumayan lebat datang mengeroyok dan memaksa gue buat lari cari tempat berteduh. Tapi, sejauh mata memandang hanya ada seseorang yang membawa payung tepat di depanku saja yang bisa gue andelin. Apa boleh buat, gue memutuskan untuk numpang.
“Gue numpang di payung lu ya!”. Kata gue sambil mengusapkan tangan pada baju gue yang sedikit basah karena hujan. Sekilas, tak ada jawaban dari seseorang yang menyelamatkan gue dari segerombolan pasukan air langit itu. Gue pun memutuskan menoleh dan mau bilang ‘makasih’ sama orang yang belum gue lihat dari tadi. Alhasil, gue terperanjat saat mengetahui orang itu adalah Selly, gue kagak salah ngeja, itu Selly S-E-L-L-Y.
“Pagi Slamet”. Sapanya dengan senyuman yang tak pernah gue lihat
Gue hanya bisa bengong, bukan karena kaget dia jalan kaki, itu mah udah biasa. Lebih dari itu, dia ternyata tahu nama gue. Nyali gue kali ini udah benar-benar hangus karena berada beberapa senti dari Selly. Tapi, gue coba nyapa balik dia walau gugup telah mengganjal semua kata-kataku.
“Pa.. pagi juga Sell. El.. Elu kok tahu nama gue yah?”. Nah, dan akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut gue yang dari tadi diserang oleh si gugup. Dia hanya tersenyum tipis sembari menjawab pertanyaan yang membuat gue bahagia banget.
“Ya jelas lah gue kenal sama lu. Selain lu langganan saingan gue, lu kan yang biasa ngintipin gue waktu main piano Met”.
Bagaikan disambar petir, jawaban Selly tadi membuatku keget sejadi-jadinya. Gue hanya bisa diam menghadapi kenyataan kalau gue tertangkap basah seperti maling yang digrebek warga satu kampung.
“Lu jangan takut, Met. Gue nggak marah kok sama lu”.
Gue hanya manggut-manggut dan tersenyum kecut. Selly melanjutkan lagi monolognya. Ya, karena gue dari tadi hanya bisa diam, diam dan diam.
“Nanti kita pulang sekolah bareng ya. Kamu mau apa enggak?”.
Kali ini gue hanya melongo, nggak tau lagi mau ngomong apaan. Padahal kalau dilihat-lihat banyak banget copop yang ditolak tawaran dinner ataupun sekedar lunch di kantin. Berarti gue ini adalah kupop yang lagi beruntung aja. Sebenarnya, dari tadi hati gue udah bilang ‘mau’ tapi bener-bener tuh nyali, kabur seenaknya tanpa permisi dulu ke gue. Selly kembali menekankan pertanyaannya yang membuat gue seakan jatuh di tumpukan bunga-bunga yang wangi.
“Gimana Met?”.
“Mau”. Jawaban singkat gue yang paling susah buat diucapin.
Selly benar-benar sudah menunggu gue di depan sekolah dengan payung yang menaunginya. Gue langsung menghampiri Selly dan berjalan pulang. Hujan dari tadi pagi belum juga reda, membuat perjalananku dengan Selly sangat lambat. Tapi, tiba-tiba hujan membasahi gue dan gue lihat Selly menutup payungnya dan memegang tangan gue.
“Met, hujan-hujanan yuk!”. Ajaknya yang langsung menarik gue dan berlari-lari. Gue nggak habis pikir, bagaimana mungkin Selly dan gue yang sudah memakai seragam putih abu-abu sebahagia ini menikmati hujan. Seperti anak kecil yang baru diizinin sama orangtuanya buat hujan-hujanan.
Entah kebetulan atau tidak. Akhirnya gue sampai di daerah yang biasa gue kunjungin kalau lagi suntuk. Disana ada danau buatan dengan taman yang mengelilinginya. ‘Semoga Selly suka’, batinku.
Hujan tinggal gerimisnya saja. Dan gue sudah duduk manis disini bersama Selly. Diluar dugaan gue, Selly bukan hanya suka. Tapi, suka banget malah. Gerimis hari ini adalah gerimis paling indah yang pernah gue rasain. Karena, setiap kali gue menoleh ke kanan ada Selly disana. Dan, gue layaknya harus berterima kasih banget sama Tuhan. Karena, Dia telah mengirimkan kami pelangi yang sangat indah di atas danau sana. Untuk aku dan juga Selly.
Aku berbisik lirih dalam hati. Sambil menatap senyuman Selly yang seindah pelangi, seteduh danau dan ‘petrichor’
“Seindah apapun kamu di mata mereka Selly. Gue nggak akan berubah menjadi seperti mereka, apalagi pemikiran mereka. Gue bawa lu kesini aja, gue udah bahagia banget. Suka nggak sukanya lu, gue akan tetap seperti ini. Lu harus percaya itu”.
Tiba-tiba Selly tersenyum dan berkata.
“Met, makasih ya udah buat aku tersenyum dengan tulus di hari ulang tahunku ini”.
Perkataan Selly tadi adalah kejutan terakhir di ujung hari ini. Gue membalas senyum Selly dan tidak berkata apapun selain ‘sama-sama’ dan ‘Zhu ni shengri kuaile Selly’. Semua ini diluar dugaan gue. Tapi gue bahagia banget bisa ada di dekat Selly hari ini. Hari ulang tahunnya.

WELCOMEBACK MY FRIEND !

  Di suatu sekolah terdapat 4 orang sahabat, mereka bernama Angel, Keny, Shasa dan Lily. Mereka adalah sahabat yang sangat akrab.
“Teman-teman besok Angel ulang tahun loh!” Kata Keny dengan wajah semangat.
“Masa? Besok tanggal berapa?” Tanya Lily dengan wajah bingung.
“Ih! (Sambil mendorong bahu Lily) Masa kamu lupa sih Lily! Besok tanggal 1 Januari” Jawab Shasa.
“Oh, iya yah” Kata Lily sambil menampar jidatnya sendiri.
“Gimana kalo kita belikan kado buat Angel pasti dia senang” Sambung Keny.
“Nah bagus tuh! Tapi, kita mau kasih kado apa?” Tanya Shasa.
“Hem…” Pikir Keny bingung.
“Gimana kalo kita jalan-jalan di mall, siapa tau ada barang atau sesuatu yang bagus disana!” Jawab Lily.
“Ya! Betul banget kata Lily! (Mendorong bahu Lily lagi) tumben otak loe jalan”
“Hehe” Kata Lily.
Akhirnya, Keny, Shasa dan Lily pun sepakat untuk pergi ke mall. Setelah pulang sekolah mereka langsung mengganti baju membawa barang-barang penting dan langsung pergi ke mall..
Sesampainya disana. Mereka langsung masuk ke mall dan mencari hadiah yang bagus untuk sahabatnya. Tak berapa lama, akhirnya mereka menemukan hadiah yang cocok.
“Eh! Lily, Keny! Liat deh, kayaknya boneka kucing itu bagus deh! Angel kan suka banget sama kucing” Sambil menunjuk boneka itu dari kaca.
“Eh.. iya bagus tuh. Warnanya putih sangat cocok untuk Angel” Sambung Keny.
“Iya, cantik lagi. Manis, imut, lucu, kayak aku” Celetuk Lily sambil memegang pipinya.
“Iw! Lebay amat si loe!” Kata Shasa sambil medorong jidat Lily dengan jarinya.
Akhirmya, mereka sepakat untuk memilih boneka itu sebagai kado untuk Angel.
Keesokan harinya di sekolah…
“HAPPY BIRTHDAY ANGEL!!!” Teriak Shasa, Keny dan Lily.
“Wah.. terima kasih ya teman” Jawab Angel.
“Cie.. yang ulang tahun hari ini. Nih Angel (sambil memberikan kado) kami belikan kado untukumu. Di jamin kamu suka deh!” Kata Shasa.
“Wah, terima kasih lagi yah. Aku seneng deh” Kata Angel sambil menguncang-guncang isi kado.
“Ets! Bukanya di rumah aja yah. Biar lebih spesial” Kata Shasa.
“Hehe, ya deh” Ucap Angel.
Shasa pun senang melihat Angel yang gembira. Tapi ia belum sempat bertanya pada Angel karena di samping Angel ada seorang siswa perempuan yang belum pernah ia kenal. Shasa pun bertanya pada Angel.
“Ehem! Angel, siapa di sampingmu itu?” Tanya Shasa sambil menunjuk ke arah siwi itu.
“Oh, ini tetanggaku, siswi baru di sekolah kita. Namanya Gigi” Jawab Angel.
“Oh..” Jawab Shasa singkat.
“Kalo begitu silahkan berekenalan” Ucap Angel.
Mereka pun berkenalan dengan siswi baru tersebut. Tapi, mereka juga tidak menerima kedatangan Gigi di sekolahnya. Karena Gigi berbeda agama dengan mereka. Shasa, Keny dan Angel beragama Islam. Sedangkan Gigi Budha.
“Ya, Angel! Kayaknya aku gak bisa berteman dengannya lagi” kata Shasa.
“Apa? Tapi kenapa? Gigi itu baik loh!” Jawab Angel terkejut.
“Bukan soal itu, dia agamanya beda dengan kita” sambung Keny.
“Tapi, walaupun berbeda agama kita kan tetap satu” Jawab Angel.
“Cukup Angel! Kamu mau memilih kami atau siswi itu” Bentak Lily.
“Hem! (Berpikir) baiklah, aku lebih memilih Gigi” Jawab Angel dengan wajah kesal.
Angel dan Gigi pun pergi meninggalkan mereka.
“Baik! Tak apa” Kata Shasa.
Sejak kejadian itu Angel dan sahabatnya tak pernah saling berbicara lagi. Shasa, Keny, dan Lily selalu kesal melihat pilihan Angel. Mereka pun membenci Angel. Tapi, tidak bagi Angel, ia tetap menyayngi sahabatnya walaupun mereka telah berbuat kesalahan. Setiap kali mereka melihat Angel dengan tatapan sinis, Angel tetap membalas dengan senyuman.
“Teeet” bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Angel dan sahabatnya tidak pulang bareng lagi, karena permasalahan Gigi. Melihat mereka bertengkar Gigi pun sedih.
“Angel, maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak membuat kalian bertengkar. Maafkan aku Angel” Kata Gigi sambil menunduk dengan wajah sedih.
“Tidak Gigi. Ini bukan salahmu. Mungkin mereka belum tau bagimana cara menghormati orang lain. Kamu jangan sedih yah” Jawab Angel dengan penuh senyuman.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan saatnya Angel membuka kado yang telah dibelikan sahabatnya.
“Wah! Ini hadiah terindah yang pernah ku dapatkan. Terima kasih banyak sahabatku. Oh, sahabat kenapa kita harus berpisah. Aku sangat menyayangi kalian” Kata Angel sambil menangis.
Angel pun tak henti-hentinya memeluk boneka itu, ia pun selalu menangis melihat berpisahan di antara mereka.
Keesokan harinya di sekolah…
“Ha…” Kata Angel menghela napas sambil menutup lokernya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan, Shasa, Keny dan Lily menegur Angel.
“Angel! Angel! Hem.. kami minta maaf soal kemarin. Seharusnya kami tak mengecewakan perasaanmu dan Gigi. Kami menyesal telah berlaku buruk. Tanpamu kami bukanlah apa-apa, kami merasa bosan, lelah, kesal, yah dimarahin juga karena terlalu bersikap berlebihan. Dengar Angel kau lah satu-satunya orang yang mampu membuat kami senang. Walaupun hanya sebentar kami berpisah darimu. Rasanya sepeti bertahun-tahun. Oleh karena itu kami minta maaf” Ucap Shasa, Keny, dan Lily dengan wajah sedih.
“Itu adalah kata-kata indah yang pernah aku dengar. Tentu saja aku memaafkanmu. Tanpa kalian juga, aku bukanlah apa-apa. Kalo begitu Welcome Back My best Friend. Tentu saja aku memaafkanmu” Jawab Angel.
“YEEEEY!!!” Teriak kegirangan Shasa, Keny dan Lily.
“Ets! Tapi kalian harus minta maaf juga sama Gigi” Kata Angel.
“Iya, iya” serentak mereka.
Mereka pun berpelukan dan menjadi sahabat yang utuh lagi ditambah dengan siswa yang baru bernama Gigi. Akhirnya lengkaplah kebahagian mereka.
Selesai…