Sabtu, 22 November 2014

MERCUSUAR


Menara setinggi 65 meter yang dibangun pada zaman kolonial berdiri gagah di dekat Pantai Sembilangan, Bangkalan, Madura. Itulah Mecusuar ZM Willem III yang bisa dikunjungi akhir pekan ini saat liburan di Pulau Garam.

Ada tempat wisata sejarah yang terletak di Pulau Madura tepatnya di Kota Bangkalan. Sebuah mercusuar buatan Belanda letaknya berdekatan dengan alam yang indah yakni Pantai Sembilangan.

Kini perjalanan saya merambah ke daerah Jawa Timur tepatnya, Pulau Madura. Di Madura terdapat daerah Bangkalan yang menawarkan berbagai objek wisata. Kala itu saya dan kedua saudara saya meluncur ke objek wisata Mecusuar ZM Willem III atau saya sebut Menara Suar Sambilangan, Madura.

Perjalanan kami ke sana mempunyai sensasi tersendiri. Perjalanan kami mulai dengan menyeberang ke Pulau Madura dari Surabaya melalui Jembatan Suramadu. Menggunakan motor kami terhuyung-huyung diterpa angin yang sepoi-sepoi menyapu jembatan yang berada di atas laut itu. Sekitar 1 jam lebih, kami akhirnya tiba di Menara Suar Sambilangan.

Berbagai destinasi alam disajikan karena memang letak mercusuar ini berada di pinggir Pantai Sembilangan. Mercusuar tersebut tingginya mencapai 65 meter dengan 17 lantai.

Untuk mencapai ke puncak menara kita harus menaiki ratusan anak tangga. Sebenarnya ada lorong untuk mengangkat barang ke puncak menara atau sejenis lift tapi keadaannya sudah tidak bisa digunakan lagi. Wajar, mercusuar itu dibangun tahun 1879, sejak zaman Belanda.

Namun jangan khawatir, kondisi mercusuar ini masih kokoh dari dulu yang berfungsi untuk menerangi jalan kapal di laut. Lampu yang dimilikinya mempunyai jangkauan yang cukup jauh, sekitar 20 mil. Pada tiap lantai terdapat jendela-jendela sebagai sirkulasi udara yang masuk.

Kami sempat beristirahat sebentar sebelum mencapai puncak mercusuar. Ketika kepala kita melongok keluar dari jendela, maka angin berhembus dari laut menyapa wajah kita yang berkeringatan.

Hingga sampai puncak menara, kita dihadapkan oleh pemandangan asli daerah sekitar. Terlihat dari atas pantai yang luas, tanaman-tanaman bakau yang tumbuh dan sensasi angin yang segar.

Kami bertiga menghabiskan waktu untuk bercerita pengalaman traveling dan tak ketinggalan mengabadikan foto bersama. Terlihat orang lain yang juga pengunjung di sana melakukan berbagai pemotretan fotografi.

Sudah banyak orang-orang yang berkunjung ke sini namun sayang melakukan vandalisme, terlihat dari coretan-coretan nama di dinding menara. Dindingnya yang terbuat dari besi menambah aksen seni suara yang bergema. Suara kita bisa memantul hingga terdengar tiap-tiap lorong. Itulah mengapa orang-orang menyebutnya seram. Padahal itu suara orang lain yang juga berkunjung ke sana.

Setelah puas, kami turun ke bawah dan jalan-jalan sekitar mercusuar. Terdapat WC umum yang disedikan untuk pengunjung setelah membayar Rp 1.000. Tak jauh dari mercusuar ada Pantai Sembilangan yang terlihat luas dari atas menara. Kami menyempatkan bermain air di Pantai Sembilangan yang berkarang licin.

Untuk ke sana tidaklah sulit, karena pantai tersebut terdapat daratan timbul seolah membuat jalan dari batu untuk lebih medekat ke air laut. Sekitar dua jam kami di sana, kami pun pulang dengan hati gembira.

POTRE KONENG

-Pada Dahulu kala, Madura merupakan pulau yang terpecah belah. Yang tampak pada waktu itu adalah gunung Pajuddan dan gunung Gegger di daerah Bangkalan, tempat kelahiran Raden Saghara.
Pada saat itu pula di tanah jawa tepatnya di daerah muara sungai Brantas di Jawa Timur ada sebuah kerajaan bernama “MEDANG KEMULAN”. Kerajaan Medang  Kemulan sangat aman, tentram, dan damai. Semua warganya melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Ca’ epon reng Madura “ lakona lakone kennengga kennengge”, demikian prinsip mereka. Rajanya bernama “Sang Hyang Tunggal” adalah seorang raja yang
arif dan bijaksana. Sang raja dikaruniai seorang putri yang cantik jelita bernama “Bendoro Gung” (Potre Koneng), sang putri sangat ramah dan sopan santun pada siapa pun.
Pada suatu malam dalam tidurnya, sang putri bermimpi, bertemu dengan seorang pemuda yang gagah perkasa yang bernama Abiyasa. Karena ketampananya, sang putri terpesona dan jatuh cinta padanya. Ternyata cinta sang putri tidak bertepuk sebelah tangan, karena sang pemuda juga menyukai sang putri. Di dalam mimpinya, kedua insan memadu kasih dengan mesra. Tidak diduga dan sulit dipercaya, karena peristiwa dalam mimpi tersebut, putri Bendoro Gung benar-benar hamil. Sejak saat itulah sang putri mengasingkan diri.
Perubahan yang dialami sang putri ternyata tidak luput dari perhatian sang prabu. Maka dipanggilah seorang dayang yang biasa melayani sang putri untuk memanggil putri Bendoro Gung agar menghadap padanya. Ketika sang putri menghadap betapa terkejutnya sang prabu melihat perubahan putri kesayangannya. Sang prabu lalu menanyakan apa yang terjadi pada anak kesayangannya. “Anakku, apa yang terjadi padamu? Wahai anakku?” mendengar tutur kata ayahnya menangislah putri Bendoro Gung sambil menceritakan peristiwa aneh yang dialaminya, mulai peristiwa dalam mimpinya sampai kehamilannya.
Mendengar pengakuan putri kesayangannya, maka meledaklah amarah sang prabu. Dengan nada sangat marah dia berkata “Hai Bendoro Gung, kalau orang masih waras tidak akan percaya terhadap ceritamu ini! kalau kau benar-benar hamil itu adalah  aib yang sangat besar bagi kerajaan Medang Kemulan”.
Selanjutnya sang prabu memanggil patih Pranggulang. Beliau menceritakan segal kejadian yang menimpa keluarga kerajaan dan memerintahkan patih Pranggulang untuk menyingkirkan putri Bendoro Gung. Selanjutnya, patih Pranggulang membawa putri Bendoro Gung ke hutan belantara.
Patih Pranggulang menghunus pedangnya dan mengayunkan ke leher sang putri. Ketika ujung pedang hampir mengenai leher sang putri, terjadilah keajaiban. Pedang tersebut jatuh ke tanah, demikian sampai berulang tiga kali. Patih Pranggulang tidak melanjutkan untuk membunuh sang putri, tetapi dia memilih tidak kembali ke kerajaan dan membawa sang putri jauh ke utara. Untuk menghilangkan kecurigaan orang, patih Pranggulang merubah namanya menjadi Kyai Poleng (poleng artinya kain tenun Madura).
Setelah sekian lama berjalan, sampailah mereka di tepi pantai. Kyai Poleng membuat sebuah rakit, lalu sang putri di dudukkan di atas rakit dan dihanyutkan ke laut menuju pulau Madu Oro atau sekarang menjadi pulau Madura. Sebelum berangkat, Kyai Poleng berpesan kapada sang putri jika ada apa-apa supaya ia menghentakkan kakinya ke tanah, maka Kyai Poleng akan datang. Selanjutnya rakit berjalan dan terdamparlah di gunung Gegger.
Suatu hari sang putri sakit perut dan merasa akan melahirkan, maka sang putri menghentakkan kakinya ketanah dan datanglah Kyai Poleng. Dengan dibantu Kyai Poleng, sang putri melahirkan anak laki-laki yang sangt tampan. Dengan rasa suka cita Putri berkata, “Sang Hyang Widi, Hamba ucapkan terimakasih atas anugerah yang besar ini. Maka anak ini hamba beri nama RADEN SAGHARA”. Manusia pertama yang lahir di pulau Madura.
Setelah raden Saghara lahir, dia diasuh oleh ibunya. Dibantu oleh Kyai Poleng, akhirnya raden Saghara tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa dan tampan. Pada suatu hari di kerajaan Medang Kemulan terjadi peperangan antara kerajaan Medang Kemulan dengan nageri Cina. Yang menyebabkan timbulnya wabah penyakit aneh di kerajaan Medang Kemulan. Suatu saat sang prabu mendengar kabar bahwa di pulau jawa. Tepatnya di pulau Madura ada seorang pemuda yang sakti mandra guna, yang dapat melawan tentara Cina dan dapat menyembuhkan penyakit aneh tersebut. Maka diutuslah seorang patih dari kerajaan Medang Kemulan untuk mencari pemuda tersebut yaitu raden Sagahara.
Setelah utusan prabu Sang Hyang Tunggal tiba di pulau Madura, ia mencari raden Saghara, dan bertemulah ia dengan raden Saghara di gunung Gegger. Utusan tersebut menceritakan segala kejadian yang menimpa kerajaan Medang Kemulan. Ia juga menceritakan bahwa ada seorang pemuda dari pulau Madura yang dapat membantu kerajaan Medang Kemulan.
Utusan tersebut meminta raden Saghara untuk menolong kerajaan Medang Kemulan. Mendengar kabar dari utusan tersebut, raden Saghara menceritakan kepada ibunya yakni Putri Bendoro Gung. Dan meminta ijin untuk pergi menolong kerajaan Medang Kemulan. Putri Bendoro Gung akhirnya mengijinkan putranya untuk menolong kerajaan Medang Kemulan, namun putri Bendoro Gung tidak menceritakan pada putranya bahwa ia adalah putri dari kerajaan Medang Kemulan dan raden Saghara adalah cucu dari prabu Sang Hyang Tunggal.
Setelah itu maka berangkatlah raden Saghara ke kerajaan Medang Kemulan dengan membawa senjata yang berupa tombak. Sampai di kerajaan Medang Kemulan, raden Saghara berperang melawan tentara Cina dengan cara ujung tombaknya dihadapkan pada tentara Cina. Dari ujung tombak itulah, kemudian keluar penyakit sehingga membuat tentara Cina terkena penyakit dari ujung tombak raden Saghara. Dan seketika tentara Cina pergi meninggalkan kerajaan Medang Kemulan, dan penyakit aneh yang menimpa rakyat Medang Kemulan hilang dengan seketika.
Sang prabu Sang Hyang Tunggal bertemu dengan raden Saghara, dan mengucapkan terimakasih. Atas rasa terimakasihnya, Ia pun hendak menjodohkan raden Saghara dengan putrinya (adik Bendoro Gung). Namun raden Saghara meminta ijin untuk pulang ke pulau Madura, untuk meminta persetujuan dari ibunya. Namun pada saat itu ibu raden Saghara tidak lagi tinggal di gunung Gegger, akan tetapi ia sudah pindah ke daerah Nepa di Madura.
Setelah bertemu dengan ibunya, raden Saghara menceritakan tentang perjodohan tersebut. Mendengar hal itu, putri Bendoro Gung sangat terkejut dan ia pun memutuskan untuk menceritakan tentang hal yang terjadi pada putri Bendoro Gung. Ia pun memberi tahukan bahwa putri yang hendak dijodohkan dengannya adalah bibinya sendiri, dan prabu Sang Hyang Tunggal adalah kakeknya sendiri.
Setelah menceritakan hal tersebut putri Bendoro Gung dan raden Saghara menangis dan berpelukan, serta pada saat itu pula mereka menghilang tanpa jejak. Konon menurut ceritanya kerajaan yang ada di Nepa merupakan bekas peninggalan dari putri Bendoro Gung dan Raden Saghara. Serta semua prajuritnya berubah menjadi monyet. Menurut cerita rakyat setempat, orang-orang yang mempunyai ilmu keimanan yang tinggi, dapat melihat sosok raden Saghara yang gagah dengan disertai pakaian perang yang dilapisi dengan kilaun emas


PULAU AJAIB

- Pulau karang sepanjang 50 meter di tengah laut, tiba-tiba muncul di pesisir yang berada di Desa Labuhan, Kec Sepuluh, Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Fenomena kemunculan gundukan karang setinggi sekitar tiga meter ini, diyakini masyarakat sekitar sebagai tanda akan terjadinya bencana.
Menurut warga sekitar, sebelum cuaca ekstrem melanda Laut Jawa, pulau baru di tengah laut yang terdiri dari puluhan batu karang dengan ukuran besar dan ribuan lebih karang berukuran kecil itu, tidak pernah ada.
"Karang-karang dengan ukuran dan bentuk yang tidak lazim (tidak seperti yang biasa dilihat warga di bibir pantai) itu, muncul awal Januari lalu," kata Nur Afiah, warga Desa Labuhan, Rabu (23/1).
Awalnya, penduduk sekitar mengira cuma kumpulan pasir di tengah laut yang terdorong oleh ombak besar. "Tapi lama-lama tambah membesar, membentuk seperti kapal raksasa yang terdampar. Karena penasaran, penduduk akhirnya mendekat dan ternyata ada banyak karang. Bentuknya aneh-aneh, ada yang seperti tengkorak manusia, ada yang berbentuk lempengan dan karang yang kecil-kecil seperti tulang belulang."
Fenomena alam ini, dikhawatirkan sebagai pertanda akan terjadinya petaka di kawasan sekitar. "Terus terang saja, kami, warga di sini kaget dan takut, soalnya batu berukuran besar ini sebelumnya tidak ada, tapi kenapa kok tiba-tiba bermunculan, jangan-jangan ini isyarat sesuatu," sahut Firman (35), warga Desa Labuhan yang lain.
Meski demikian, misteri kemunculan pulau karang yang secara tiba-tiba ini, belum bisa dibuktikan secara pasti kalau nantinya akan terjadinya bencana. Hanya saja, kekhawatiran dan berbagai opini tetap muncul di desa setempat.
Beberapa di antaranya, menganggap kalau Desa Labuhan akan segera tenggelam disapu air laut. Ada juga yang berpikir, untuk selalu waspada saja, karena bencana apapun bakal terjadi dengan munculnya pulau karang tersebut.
"Bentuk bencana itu, kita ya nggak tahu. Hanya saja kita patut waspada dan selalu istighfar, itu saja," kata Nur Afiah lagi, menimpali ucapan Firman.
Kendati memunculkan kekhawatiran dan spekulasi bernuansa mistis, warga sekitar tetap memanfaatkan keanehan pulau karang tersebut sebagai obyek wisata baru. Para nelayan di Desa Labuhan-pun, memanfaatkan perahunya untuk mengantar wisatawan lokal melihat dari dekat keunikan batu karang di pulau karang tersebut.
Cukup Rp 4 ribu per kepala, bisa mengobati rasa penasaran warga. Tak hanya warga di Pulau Madura yang berbondong-bondong ingin menyaksikan sendiri pulau karang itu, warga dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik pun tak mau ketinggalan ingin menyaksikan fenomena alam tersebut


TENTANG NEPA

PESONA PULAU MADURA BERSAMA HUTAN KERA (NEPA)



Indonesia merupakan suatu negara yang kaya akan kesuburan tanahnya. Bahkan disamping itu, indonesia juga kaya akan tempat-tempat wisata indah dan mempesona. Mulai dari tempat wisata alam bersejarah, maupun tempat wisata non sejarah. Indonesia juga mempunyai beribu-ribu pulau yang masing-masing mempunyai tempat wisata yang tak kalah indahnya. Dari yang sudah terekspose maupun yang belum terekspose. Salah satunya di Pulau Madura tepatnya di desa Batioh kecamatan Banyuates kabupaten Sampang. Di desa ini terdapat suatu tempat wisata bersejarah. Yaitu Hutan Nepa.
            Hutan Nepa adalah sebuah wisata rekreasi hutan kecil yang dikelilingi oleh laut dan dimana ditengah hutan tersebut banyak terdapat kera. Nama nepa di angkat dari nama pohon yang sejenis pohon kelapa kecil yang mana daunnya dapat dijadikan sebagai atap rumah, bahkan ada pula yang dapat digunakan sebagai kertas rokok. Uniknya pohon-pohon yang ada di dalam hutan tidak terlalu tinggi sebagaimana pohon hutan pada umumnya. Ditengah-tengah hutan nepa terdapat sungai kecil. Meskipun sebuah hutan, namun tak ada kesulitan dalam menjangkau setiap keindahan yang ada di dalamnya. Di dalam hutan terdapat jalan setapak yang memudahkan kita dalam memburu panorama-panorama yang sangat mengesankan. Jarak tempuh dari jalan raya menuju hutan nepa dapat ditempuh dengan jarak ±0,5 km dengan berjalan kaki dan melewati rumah-rumah penduduk. Di hutan ini terdapat ribuan ekor kera. Sepintas memang mirip dengan salah satu tempat wisata di Bali yaitu sangeh. Namun yang dapat dibedakan dari keduanya adalah kera-keranya. Dimana kera-kera yang terdapat di hutan nepa tak seliar kera-kera yang terdapat di sangeh Bali. Satu lagi keunikan dari kera-kera yang ada di hutan nepa ini yaitu mempunyai nama panggilan LO ALILO NYOK LO yang berarti “ dimana dirimu semua, aku datang membawa kemenangan dan tampakkan dirimu semua “ dan dengan memanggil sebutan tersebut, maka kera-kera tersebut berbondong-bondong akan datang menghampiri kita. Namun kera-kera ini tidak akan menampakkan dirinya apabila pengunjung tidak bermaksud baik. Kebanyakan orang yang tidak bermaksud baik akan tersesat di dalam dan tidak bisa keluar kecuali mereka melepas semua pakaian dan memakainya kembali dengan keadaan terbalik. Di dalam hutan kera masih banyak terdapat benda-benda kuno bersejarah seperti cemeti, keris, gerre manjheng, tusuk kondhe, tasbeh emas, ular bersisik emas, perkutut putih, dan kera putih. Namun sayangnya kera putih hanya bisa dilihat di jaman dulu. Sekarang keberadaannya pun sudah punah. Selain dijadikan objek wisata, bagi orang-orang tertentu hutan nepa dijadikan tempat bersemedi dan keperluan pribadi lainnya. Karena pada dasarnya hutan nepa akan mengabulkan semua cita-cita orang mengunjunginya, insyaalah. Hutan kera ini juga mempunyai juru kunci yang berasal dari desa setempat yaitu bernama H. Abdul Aziz Jaying. Hutan Nepa mempunyai pantai yang indah dengan pasir putihnya. Dan pemandangan yang sangat memukau serta kesejukan alamnya.
            Konon, hutan nepa merupakan suatu sejarah perjalanan dari Raden Segoro. Dimana Raden Segoro merupakan seorang putra dari puteri Bendoro Gung, yang terlahir tanpa seorang ayah. Karena puteri bendoro Gung pun tidak mengetahui siapa gerangan ayahnya. Sedangkan Bendoro Gung merupakan puteri dari raja Sanghjangtunggal yang telah membuangnya dari istana. Raden Segoro dilahirkan di madura tepatnya di gunung geger. Seiring dengan bertambahnya usia Raden Segoro dan Bendoro Gung pindah ke dekat Nepa. Disanalah mereka tinggal bahagia. Raden Segoro mempunyai dua tongkat pusaka yang berasal dari dua ekor naga yang bernama Nenggolo dan Alugoro. Yang mana kedua tongkat pusaka ini sangat sakti. Suatu hari datang utusan dari negara yang disebut Mendangkawulan. Mereka diutus oleh raja Sanghjangtunggal untuk menjemput Raden Segoro dengan tujuan meminta bantuan kepada Raden Segoro untuk berperang melawan tentara cina. Karena sebelumnya sang Raja bermimpi bahwasannya pria tua yang ada di mimpinya menyatakan bahwa Raden Segoro lah yang mampu melawan tentara cina. Dan Raden Segorolah nantinya yang akan menjayakan negaranya. Hal inilah yang memacu raja agar memakai jasa Raden segoro dalam peperangan. Dan tepat pada akhirnya Raden Segoro memenangkan peperangan dengan tentara cina dengan berkat tongkat pusakanya yaitu Nenggolo. Pada akhirnya sang rajapun puas dengan kinerja Raden Segoro. Dengan ucapan terimakasih raja berniat agar Raden Segoro berkenan menjadi menantunya. Sang raja pun menanyakan orang tua dari Raden Segoro, namun Raden Segoro pun bingung dengan pertanyaan baginda raja. Akhirnya Raden Segoro kembali ke pulau madura dan bertemu dengan ibunya Bendoro Gung. Dan disaat yang bersamaan Raden Segoro langsung menanyakan siapa ayah dari Raden Segoro. Bendoro Gung pun bingung mendengar pertanyaan puteranya. Dan pada saat itu pula Bendoro Gung dan Raden Segoro lenyap seketika. Namun istana atau kediaman Raden Segoro dan Bendoro Gung masih tersisa sampai saat ini. Walaupun kenyataanya hanya tersisa puing-puing yang berupa batu bata yang terpendam di dalam tanah. Meskipun demikian, penduduk sekitar percaya bahwasannya Raden Segoro dan Bendoro Gung tetap menjaga hutan tersebut. Begitu pula dengan kera-kera yang ada di dalam hutan Nepa. Kera-kera inipun dianggap suci dan tak ada seorangpun yang berani membunuhnya. Sedangkan dua tongkat peninggalan Raden Segoro kini berada di genggaman Raja Arosbaya yang bernama Pangeran Demang Palakaran dan sampai saat ini tersimpan menjadi pusaka kota Bangkalan.
            Harapan saya hutan nepa nantinya akan menjadi objek wisata utama di kabupaten sampang. Karena sangat disayangkan apabila terus terabaikan. Mengingat belum terlalu banyaknya pengunjung, dan bahkan mungkin banyak yang belum mengetahui keberadaannya. Penasaran dengan keberadaan hutan nepa? Datang langsung dan dijamin puas dengan segala suguhan alamnya yang mempesona. dan siap-siap ya, kalian para pengunjung akan terhipnotis dengan keadaan alam yang sangat indah ■


TENTANG QUE

RIWAYAT,,,,,,,,……..

Namaku Emylina, temen2 ku ada yang manggil aq emy,mylina,em dll,Terserah kalian saja mau manggil apa saja, yangpenting kalian senang or happy…….
       Sedikit tentang pribadiku, aku dulu berpenmdidikan di SDN CAMPOR 01 yaitu salah satu sekolah dasar yang ada di kawasan GEGER – BANGKALAN . aku seko0lah SD sekitar 6th setelah aku lulus dari Taman kanak-kanak AN_NAFI’IYAH kampak gegher, setelah kurang lebih umurku 12th aku lulus dari SD, aku berpendidikan di SMPI AN-NAFI’IYAH, yaitu dimana dulu aku, sekolah Taman kanak-kanak.
      Aku melanjutkan ke tempat yang sama karna beberapa alazan, diantara : karna tempatnya yang sangat dekat dengan rumahku, dansaat itu aku tidak punya minat sama sekali untuk melanjutkan ke sekolah NEGERI, padahal kalau difikir-fikir sekolah yang NEGERI itu lebih nyaman karna biaya di bantu oleh pemerintah dengan bantuan dana BOS, entah kenapa saat itu aku tak ingin untuk berpisah dengan 4 shobat Qaribku.
       Sedikit cerita tentang identitas sekolahku, AN NAFI’IYAHadalah sebuah pondok yang ada di geger,yang sudah di bangun oleh beberapa Kiai sebelumnya, awalnya  pondok tersebut hanya menyediakan sekolah madrosah saja yaitu sprti : TPQ ,IBTIDAIYAH, TSANAWIYAH, yang namanya pondok bisa berjalan kalau ada para santrinya, ia khan SHOB…………………
Waktu itu sanrtinya buanyaaaaaaaak buangetz katanya , hingga saat nee, yayasan tersebut menyediakan be erapa sekolah dari tk, smp, dan sekolah agama.
      Alhamdullah, setelah  3th aku belajar,mencari ilmu di tempat tersebut, aku lulus, dan tau ng, IJAZAH ku ternyata NEGERI karna pada saat itu sekolahku mengikuti UAN bergabung dengan sekolah negeri,
HEbaaaaaaaaaaaat khan ………………………..
Jangan remehkan sekolah SWASTA nya, Semua sekolah sama koQ, asalkhan kitanya aZ yang mau berusaha / TIDAAAAAAAK…………..
         Sampai saat ini aku bisa belajar di MAN MODEL BANGKALAN walaupun  Aq BUKAN DARI SEKOLAH Negeri.
GOOD LUCK,,,,,,,,,.. kawandz  tyuskan semangat BELAJAR KITA , agar kita biza jadi seprti PAHLAWAN pejuang  kita  sebelumnya..


awal masuk manba

AWAL MASUK MANBA
   Sekolah di MANBA merupakan  hal yang sangat dan sangat  di luar anganku, memang niatku dulu sekolah  ke bangkalan tepatnya di MANBA pernah ada, tapi harapan itu pu2s di tenag jalan ketika kedua orang tuaku tidak merestuiku,  mereka  takut karna mungkin Bangkalan termasuk jauh dari  rumahku, dan apalagi di rumahku kaga’ memiliki kendaraan bermotor, trus ntaraku yang mo kessekolah pake’ apa………………
     Awal masuk mos, setelah beberapa hari aku mengurus dan mengisi daftar formulir tuk masuk diman allhamdullillah, mungkin ini sudah takdir allah, sayadibantuoleh guru-guru SMP ku untuk mendaftarkan sekolah ke MANBA ini,  dan orang tuaku juga mengizinkanku, namanya az kaga’ pernah keluar jauh dari rumah sehingga pergi ke MANBA ini seakan terasa lama buangetz, maklum DESSOO……….. padahal jarak MANBA dengan rumahku sekitar kurang lebih 9 km, mungkin..
     MOS pun di mulai aku mulai gelisah, mau berangkatpake’ apa, ortuku udach bicara tentang ini taphie ojek yang mo nganterin aku PP ke MANBA kg mo kalau 300, dia mintanya 400 kalu bisa lebih, dduuuch yaa allahkoq buanyak buangetz, dapet darimana ortuku, apalagi ntar belum pembayaran yang di perlukan untuk sekolah, dan uang sakuku,aku merasa bersalah pada ortuku, tapi mereka teetpmenSPROtku untuk trus belajar, soal biaya,biar kami yang nanggung, kata beliau.
     MOS di MANBA memang dilaksanakan pada haridimana sisws-siswi b elum ada yang masuk,tepatnya 3hari sebelumnya, kami semua yang ikut mos masuk pada jam setengah 6, so aku beramgkatnya jam 5, dan Alhamdulillah bibi’ku bersedia mengantarkan aku bahkan PP,Alhamdulillah ya raab, selama 3hari aku pernah terlambat karna aku masing pontang-panting cari inilahdan yang lain so aku nyampe’ disana kena’ hukuman dech, tapi kg pha2 itu semua ada hikmahnya koq, dari ituaku bisa kg telat lagi. Tau’ kg’ apa hukumannya, hukumannya itu memintatanda tangan dari ka3’ senior kami,  hhaaah Cuma tanda tangan, EEeiiitzs walaoupun Cuma tanda tangan dapetsz minta ampun susah buangetz, ia syukur kalu ka2’nya baik hati dan tidak sombong,…  tapi dari itu kami bisakenal dengan ka2’ ini sapa namanya dan ini sapa………….
     Sungguh penuh banyak pengorbanan danbanyak pengalaman yang aku alami, dari berangkatnya, tapi alhamduliillah, waktu itu akuikutz dengan mb’ sekelasku yangrumahnya agk jauuh lumayan beda desa denganku, shnnga aku harus  jalan kaki ke desanya dan nunggu dia, dan Alhamdulillah aku capek, soalnya aku masih harus lari2, takut dia yang menantiku, akujadi kg enak, dan setelah beberapa bulan temen setetanggaku mengajakku untuk ikutsz dengannya so itu lebih enak soalnya tetangga bisa langsung Conek,tapi aku masih pamit dulu a5 tmnku itu dan ngucapin banyak terima kasih,
   Setelah beberapa bulan aku ikut anak tetangga, allhamdullah akhirnyaortuku membelikanku sepeda motor,allahmdulillah ya allah, tapi sanyangnya aku belumbisamaka dari itu aku harus belajar,
Ternyata ,asih banyak lagi cobaa’n yang aku almi, kadang smpe’ jam 5 aku belum dijemput, hingga akhirnya aku harus jalan kaki kadang nyampe’ di masjid bunderan-tejesah akubaru bertemu dengan jemputanku,rasanya capeek buangeeetz, tapi aku harus bisa, ingeetz perjuangan seseorang yang dlu mensprot ku,  masiiih banyak lagi ssich pengalamanku,tapi udah dulu yaaa………….